30 October 2011

Apak dan Ayah

Jam 2 pagi di Hospital Daerah Lipis. Apak terjaga dari tidur. Tidur yang sebenarnya tak pernah lena sejak jam 11 malam tadi. Apak tiba-tiba bangun dan duduk tegak di atas tilam. Tiada lagi keluhan sakit-sakit. Perkataan yang keluar hanyalah "ayah...ayah...ayah". Seolah-olah dia sedang melihat ayahnya berada di depan katil wad Melor ini.

Aku tegur perlahan "Apak bangun nak pergi mana ni?"
"Ayah...ayah..." jawabnya lemah sambil memandang aku.

Sebagai anak, aku tak sanggup merenung dua mata tua itu. Ada sinar lesu di dalamnya. Tanda penatnya dia membesarkan kami adik beradik. Apak cuba mencabut tiub wayar air yang melekat di tangan kirinya. Aku marah. Apak merayu manja "Nantilah dulu..nantilah dulu."

Apak seperti sedang bermanja dengan "ayahnya". Sangat manja. Aku suruh apak baring. Perlahan-lahan dia turunkan badan. Menyambung tidur bersama perkataan "ayah" yang tetap disebut-sebut.

Benarlah. Semakin kita tua, semakin kita kembali kepada fitrah. Apak rindukan arwah ayahnya. Sepertimana dia lahir 69 tahun yang dulu.


- dan tanpa sedar, apak mengulangi perilaku di atas berulang-ulang kali sepanjang malam.. syafakallah ya walid.

4 comments:

~readikara~ said...

Smoga Apak cepat sembuh.. Aminn..

addyaholix said...

satu hari nanti kau juga akan rindukan apak. sepertimana apak rindukan ayah.

semoga apak lekas sembuh, amin.

^pARi-pARi^ said...

apak sgt rindukan ayah..

smoga bek-bek saje dan segera sihat..

Tentang Kita said...

semoga semuanyer baik2....